Monday, October 03, 2011

Menikmati Ramadhan di Niujie Beijing

Sudah lama kudengar kalo  populasi muslim di Beijing lumayan banyak.  Sebelum aku pergi ke Beijing, aku googling ternyata  masyarakat muslim di  Niujie ini punya keunikan yang khas dan jadi salah satu daya tarik di kota Beijing.  Jadilah Niunjie jadi salah satu list dalam  perjalanan kami, penasaran juga seperti apa seh kehidupan muslim di sana.  Kebetulan perjalanan kami saat itu bulan ramadhan, jadi rasanya tepat banget momentnya.


Kami menggunakan subway /metro selain murah juga cepat,  waktu saya tanya pada security di hotel katanya letak subway dekat dengan hotel..dan petunjuk di map juga dekat. Kami pun berjalan, dan ternyata oalahhhh jauhhhh juga. Saya  masuk ke bawah tanah, dan tau kah sodara-sodara ternyata ribuan penduduk China berada dibawah tanah untuk menggunakan fasilitas subway.  Membeli tiket seharga 2 Yuan dan melewati security check untuk mendeteksi setiap barang yang dibawa,dan berdesak-desakan di dalam metro. Saya menggunakan subway line 2, dan  berhenti di halte ChangChunjie. Begitu keluar dari pintu stasiun, ambil arah selatan....jalan lurusssssssssssss...nanti tertulis di papan jalan arah Niujie.. Di peta seh keliahatanya jarak antara stasiun subway dan masjid  dekat, kami pun coba menanyakan ke orang-orang  yang berada disana dan mereka memberi kode kalo kami kudu jalan luruss terus.  Ternyata jaraknya juga  lumayan cukup jauh..kalo jalan santai  seh bisa memakan waktu 30 menit.


Bila sudah masuk kearea Niujieu...amati  samping kiri kanan jalan..berjejer restoran muslim, muslim food court, pedagang yang menjual daging, jeroan, gorengan, dan macam-macam kue, malah ada supermarket muslim, dan disekitar sini tidak aneh kalo kita  melihat orang-orang China memakai jilbab dan laki-laki menggunakan  koko putih dan peci putih. Disebrang jalan, di ujung toko makanan dan restoran akan terlihat bangunan cantik mirip kelenteng..dan itulah mesjid Niujie.



Menurut sejarah yang aku ambil dari beberapa sumber, katanya....


Masjid Niujie adalah masjid paling tua dan bersejarah di Beijing, ibukota negara Republik Rakyat Cina (RRC). Usia masjid ini diperkirakan lebih dari seribu tahun. Masjid terbesar di antara 68 buah masjid di Beijing ini juga menjadi titik awal masuknya Islam di daratan Cina. Arsitekturnya memperlihatkan campuran desain khas Cina klasik dan Arab. Masjid ini dikenal  di seluruh dunia

Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao, tahun 996 Masehi,bernama "Libaisi". Bangunan mesjid ini di pimpin  oleh Nasuruddin yang berkebangsaan Arab. Menilik dari sejarah berdirinya, masjid ini sudah melintasi enam zaman, dari masa kekuasaan Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga era Cina modern saat ini.

Sejak awal berdiri hingga kini, Masjid Niujie telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan. Di masa pemerintahan Dinasti Ming, bangunan masjid mengalami perbaikan pada tahun 1442. Kemudian diperluas pada tahun 1696, semasa Dinasti Qing berkuasa. Setelah RRC berdiri tahun 1949,  Pemerintah China memberikan dana yang besar untuk Masjid Niujie  untuk renovasi. Mesjid Niujie mengalami tiga kali renovasi, masing-masing di tahun 1955, 1979 dan 1996.


Sebagai masjid tertua dan paling besar di Beijing, tak mengherankan jika masjid ini menjadi pusat komunitas Muslim di kota tersebut yang jumlahnya mencapai 200 ribu jiwa. Masjid ini terletak di kawasan Niujie, Distrik Xuanwu, Beijing. Niujie sendiri dikenal sebagai kawasan padat berpopulasi Muslim terbesar di Beijing. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar 13 ribu warga Muslim yang bermukim di kawasan ini.


Dinamakan Niujie, yang berarti “Jalan Sapi”, karena warga di wilayah ini menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi. Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran Muslim. Bangunan Masjid Niujie memperlihatkan campuran dua kebudayaan, Islam dan Cina. Dari luar, arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Cina tradisional, yakni tipikal bangunan istana Cina. Sedangkan di dalam memperlihatkan gaya arsitektur Islam/ Arab.

Perpaduan dua gaya arsiktektur ini tidak terlepas dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Dinasti Liao. Kekaisaran Liao menerapkan aturan yang melarang komunitas Muslim setempat mendirikan bangunan dengan gaya arsitektur selain arsitektur tradisional Cina, dengan pengecualian bahwa penggunaan kaligrafi Arab tetap diizinkan pada masa itu.

Gerbang masuk menuju ke dalam kompleks Masjid Niujie berhadapan dengan tembok besar sepanjang kurang lebih 40 meter yang dihiasi marmer berwarna putih. Interior bangunan didekorasi dengan arsitektur khas Cina dan sentuhan desain Arab yang tidak menampilkan figur manusia dan hewan.

Berada di dalam area kompleks seluas kurang lebih 10.000 meter persegi mencakup beberapa bangunan :bangunan utama  termasuk mihrab, menara untuk mengobservasi bulan, tempat belajar, paviliun, dan ruang pertemuan, mesjid khusus wanita, kuburan dan di dalam mesjid ada juga peninggalan keramik dan cawan.


Aula Utama
Arsitektur khas Dinasti Qing jelas terlihat pada desain ruangan ibadah, yang berupa aula utama yang hanya terbuka bagi pengunjung Muslim.
Di bawah ini foto bagian depan aula Utama:


Kalo waktunya shalat pintu tengah aula utama dibuka dan akan terlihat seperti ini,


Langit-langit di depan aula utama didekorasi dengan panel persegi, yang pada tiap sudutnya dilukis dengan desain lingkaran berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam aksara Arab dan Cina, lukisan bunga, serta hiasan kaca berwarna menghiasi ruangan ibadah.

Ruangan ini hanya dapat menampung seribu orang jamaah dan terdiri dari tiga buah koridor yang lapang. Di bagian dalam ruangan ibadah ini terdapat 21 buah tiang yang menyangga bagian dalam bangunan. Ruangan ibadah ini dinamakan juga dengan nama Aula Tungku. Di bagian belakang ruangan terdapat paviliun berbentuk heksagonal (segi enam) yang membuat aula ini tampak seperti tungku. Dipinggir kanan kiri masjid terdapat beberapa kursi dan meja yang disediakan untuk para manula yang akan shalat berjamaah.

Waktu menunjukkan untuk bersiap-siap shalat  Dzuhur,  aku dan aa berpisah,  Aa shalat di aula utama dan aku di mesjid khusus wanita. Sehabis shalat kita saling bercerita tentang  keunikan shalatdi masjid ini.


Di aula utama di mesjid untuk para laki-laki , suara adzan bergema tetapi tidak menggunakan pengeras suara, dan beberapa saat akan datang serombongan laki-laki dengan menggunakan serba putih,  jubah putih, dengan balutan putih dikepalanya dan menggunakan kaos kaki putih...mirip seperti syeh-syeh. Salah dari mereka memimpin shalat Dzuhur. Mungkin bisa dibilang kalo mereka adalah kyai di mesjid itu. Kalo di mesjid wanita , ga terdengar suara adzan. Aku menunggu imam yang memimpin shalat tapi rupanya smua orang shalat masing-masing. Toilet di mesjid laki-laki dan wanita pun bersih-bersih.


Benda-benda bersejarah
Di depan Aula utama pengunjung akan melihat cawan yang terbuat dari campuran tembaga dan timah. cawan ini dibangun pada tahun 1702 dan dibuat kembali 1739. Alat ini digunakan untuk menyiapkan makanan berupa setiap malam ke 27 dibulan ramadhan dan perayaan maulud Nabi.



Benda lainnya adalah keramik tinggi dan dihiasi dengan kaligrafi dan hiasan China.


Di sekitar mesjid juga ada dua kuburan Syeh. Mereka telah berjasa di mesjid ini untuk sebagai penceramah dan imam di mesjid ini. Mereka kira-kira hidup sekitar tahun 1276. Syeh yang pertama meninggal ditahun 1280 dan syeh yang kedua meninggal di tahun 1283. Di depan kuburan terdapat tempat untuk mematikan dupa, hmm bisa aku tebak mungkin saja mereka berdoa di depan kuburan sambil menyalakan dupa. Atau mungkin orang muslim di China masih sulit menghilangkan kebudayaan nenek luhur mereka. wallohu allam.


Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti agama yang murni. Diperkirakan ajaran Islam mulai masuk dan berkembang di dataran Cina pada abad ke-5 Masehi. Adalah Khalifah Usman bin Affan yang pada waktu itu menugaskan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk membawa misi dagang ke daratan Cina. Bahkan kemudian Sa’ad menetap di Cina hingga beliau meninggal pada tahun 635 M, dan dimakamkan di sana.

Masjid niujie di deklarasikan sebagai  Kebudayaan nasional yang dilindungi  pada 13 januari  1988 . Tahun 2005 pemerintah memberikan 25 juta RMB untuk renovasi dan perluasan area termasuk membangun masjid wanita. Banyak wisatawan Muslim yang ikut bergabung  menyelenggarakan festival dan acara-acara besar  di masjid ini.



Setelah puas menikmati keindahan arsitektur , foto dan keramahan penghuni mesjid  kami pun berpamitan pulang dengan beberapa orang yang ada berada di pelataran masjid. Mereka mencoba memulai percakapan tapi sayangnya dengan bahasa China. Salah satu dari mereka menunjuk kamera aa sebagai tanda kalo mereka mau berfoto bersama kami. 
Ramadhan saat itu terasa berbeda......dan aku pasti merindukannya :)

source : Republika, Wikipedia, Brosur wisata di Beijing, dan pengalaman pribadi

Foto : milik Nisamufti

No comments:

Post a Comment

Related Posts with Thumbnails